<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tarbiyah Weekly</title>
	<atom:link href="http://tarbiyahweekly.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com</link>
	<description>Hanya sebuah usaha kecil buat da'wah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 Feb 2011 01:40:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tarbiyahweekly.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tarbiyah Weekly</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tarbiyahweekly.wordpress.com/osd.xml" title="Tarbiyah Weekly" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tarbiyahweekly.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>LIMA BELAS BUKTI</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2010/08/13/lima-belas-bukti/</link>
		<comments>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2010/08/13/lima-belas-bukti/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 18:37:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>auliaepriya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyahweekly.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Al Hakim meriwayatkan Al Qomah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah SAW dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya &#8220;Siapakah kamu ini?&#8221; jawab kami, &#8220;Kami adalah orang beriman &#8221; kemudian baginda bertanya , &#8220;Setiap perkataan ada buktinya apakah bukti keimanan kamu?&#8221; jawab kami, &#8220;Buktinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=14&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">Al Hakim meriwayatkan Al Qomah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah SAW dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya &#8220;Siapakah kamu ini?&#8221; jawab kami, &#8220;Kami adalah orang beriman &#8221; kemudian baginda bertanya , &#8220;Setiap perkataan ada buktinya apakah bukti keimanan kamu?&#8221; jawab kami, &#8220;Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah?&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">Tanya Nabi SAW, &#8220;Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu?&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">Jawab mereka, &#8220;Engkau telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik maupun buruk.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">Selanjutnya tanya Nabi SAW, &#8220;Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu?&#8221; jawab mereka, &#8220;Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan sholat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">Tanya Nabi SAW selanjutnya, &#8220;Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyah?&#8221; jawab mereka, &#8220;Bersyukur diwaktu senang, bersabar diwaktu kesusahan, berani diwaktu perang, ridha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh.&#8221; Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi SAW berkata, &#8220;Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama maupun dalam tatacara berbicara, hampir saja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr">Kemudian Nabi SAW selanjutnya, &#8220;Maukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlumba-lumba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan , berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat&#8221;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=14&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2010/08/13/lima-belas-bukti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4bde433c17e6f1af86cf062f4a0d12f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">auliaepriya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sabar Menurut Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/sabar-menurut-al-quran/</link>
		<comments>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/sabar-menurut-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 02:13:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>auliaepriya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/sabar-menurut-al-quran/</guid>
		<description><![CDATA[H. Muhammad Jamhuri, Lc. “&#8230;Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d [13]:23-24) Sabar termasuk akhlak yang paling utama yang banyak mendapat perhatian Al-Qur’an dalam surat-suratnya. Imam al-Ghazali berkata, “Allah swt menyebutkan sabar di dalam al-Qur’an lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=13&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="post-title entry-title">                          <a href="http://muhammadjamhuri.blogspot.com/2007/06/sabar-menurut-al-quran.html">H. Muhammad Jamhuri, Lc.<br />
</a></h3>
<p><em>“&#8230;Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.</em>” (QS. Ar-Ra’d [13]:23-24)</p>
<p>Sabar termasuk akhlak yang paling utama yang banyak mendapat perhatian Al-Qur’an dalam surat-suratnya. Imam al-Ghazali berkata, “Allah swt menyebutkan sabar di dalam al-Qur’an lebih dari 70 tempat.”<br />
Ibnul Qoyyim mengutip perkataan Imam Ahmad: “Sabar di dalam al-Qur’an terdapat di sekitar 90 tempat.”<br />
Abu Thalib al-Makky mengutip sebagian perkataan sebagian ulama: “Adakah yang lebih utama daripada sabar, Allah telah menyebutkannya di dalam kitab-Nya lebih dari 90 tempat. Kami tidak mengetahui sesuatu yang disebutkan Allah sebanyak ini kecuali sabar.”</p>
<p><span id="more-13"></span><br />
Sabar menurut bahasa berarti menahan dan mengekang. Di antaranya disebutkan pada QS.Al-Kahfi [18]: 28 “Dan tahanlah dirimu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridhaanNya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka.”<br />
Kebalikan sabar adalah jaza’u (sedih dan keluh kesah), sebagaimana di dalam firman Allah QS. Ibrahim [14]: 21, “&#8230;sama saja bagi kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”<br />
Macam-macam Sabar Dalam al-Qur’an<br />
Aspek kesabaran sangat luas, lebih luas dari apa yang selama ini dipahami oleh orang mengenai kata sabar. Imam al-Ghazali berkata, “Bahwa sabar itu ada dua; pertama bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban dengan badan, berupa pukulan yang berat atau sakit yang kronis. Yang kedua adalah al-shabru al-Nafsi (kesabaran moral) dari syahwat-syahwat naluri dan tuntutan-tuntutan hawa nafsu. Bentuk kesabaran ini (non fisik) beraneka macam;<br />
Jika berbentuk sabar (menahan) dari syahwat perut dan kemaluan disebut iffah<br />
Jika di dalam musibah, secara singkat disebut sabar, kebalikannya adalah keluh kesah.<br />
Jika sabar di dalam kondisi serba berkucukupan disebut mengendalikan nafsu, kebalikannya adalah kondisi yang disebut sombong (al-bathr)<br />
Jika sabar di dalam peperangan dan pertempuran disebut syaja’ah (berani), kebalikannya adalah al-jubnu (pengecut<br />
Jika sabar di dalam mengekang kemarahan disebut lemah lembut (al-hilmu), kebalikannya adalah tadzammur (emosional)<br />
Jika sabar dalam menyimpan perkataan disebut katum (penyimpan rahasia)<br />
Jika sabar dari kelebihan disebut zuhud, kebalikannya adalah al-hirshu (serakah)<br />
Kebanyakan akhlak keimanan masuk ke dalam sabar, ketika pada suatu hari Rasulullah saw ditanya tentang iman, beliau menjawab: Iman aadalah sabar. Sebab kesabaran merupakan pelaksanaan keimanan yang paling banyak dan paling penting. “Dan orang-orang yang sabar dalam musibah, penderitaan dan dalam peperangan mereka itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)<br />
Dari itu kita dapat memahami mengapa al-Qur’an menjadikan masalah sabar sebagai kebahagiaan di akhirat, tiket masuk ke surga dan sarana untuk mendapatkan sambutan para malaikat. Dalam surat Al-Insan [72]: 12 “Dan Dia memberi balasan kepada mereka atas kesabaran mereka dengan surga dan (pakaian) sutera”. Dalam surat Ar-Ra’d [13]:23-24 “&#8230;Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”<br />
Sabar, Suatu Kekhasan Manusia<br />
Sabar adalah kekhasan manusia, sesuatu yang tidak terdapat di dalam binatang sebagai faktor kekurangannya, dan di dalam malaikat sebagai faktor kesempurnaannya.<br />
Binatang telah dikuasai penuh oleh syahwat. Karena itu, satu-satunya pembangkit gerak dan diamnya hanyalah syahwat. Juga tidak memiliki “kekuatan” untuk melawan syahwat dan menolak tuntutannya, sehingga kekuatan menolak tersebut bisa disebut sabar.<br />
Sebaliknya, malaikat dibersihkan dari syahwat sehingga selalu cenderung kepada kesucian ilahi dan mendekat kepada-Nya. Karena itu tidak memerlukan “kekuatan” yang berfungsi melawan setiap kecenderungan kepada arah yang tidak sesuai dengan kesucian tersebut.<br />
Tetapi manusia adalah makhluk yang dicipta dalam suatu proses perkembangan; merupakan makhluk yang berakal, mukallaf (dibebani) dan diberi cobaan, maka sabar adalah “kekuatan” yang diperlukan untuk melawan “kekuatan” yang lainnya. Sehingga terjadilah “pertempuran” antara yang baik dengan yang buruk. Yang baik dapat juga disebut dorongan keagamaan dan yang buruk disebut dorongan syahwat.<br />
Pentingnya Kesabaran<br />
Agama tidak akan tegak, dan dunia tidak akan bangkit kecuali dengan sabar. Sabar adalah kebutuhan duniawi keagamaan. Tidak akan tercapai kemenangan di dunia dan kebahagaiaan di akhirat kecuali dengan sabar.<br />
Al-Qur’an telah mengisyaratkan pentingnya kesabaran ini. Ketika mengyinggung masalah penciptaan manusia dan cobaan penderitaan yang akan dihadapinya. Dalam surat Al-Insaan [76]: 2 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang tercampur yang Kami hendak mengujinya )dengan perintah dan larangan)”.<br />
Pentingnya Kesabaran Bagi Orang Beriman.<br />
Sudah menjadi sunnatulah bahwa kaum muslimin harus berhadapan dengan para musuhnya yang jahat yang membuat makar dan tipu daya. Seperti Allah menciptakan Iblis untuk Adam; Namrud untuk Ibrahim; Fir’aun untuk Musa dan Abu Jahal untuk Muhammad saw.<br />
Dalam Surat al-Ankabut [29]]: 1-3 “Ali Laam Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan; kami telah beriman, padahal mereka belum diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” ##</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=13&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/sabar-menurut-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4bde433c17e6f1af86cf062f4a0d12f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">auliaepriya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedahsyatan Sholat Berjamaah</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/kedahsyatan-sholat-berjamaah/</link>
		<comments>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/kedahsyatan-sholat-berjamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 02:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>auliaepriya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/kedahsyatan-sholat-berjamaah/</guid>
		<description><![CDATA[H. Muhammad Jamhuri, Lc. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku&#8217;lah beserta orang-orang yang ruku’ (QS. Al-Baqarah; 43) Hampir selama hidupnya, Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah. Bahkan dalam keadaan perang sekalipun, beliau bersama sahabatnya melaksanakan sholat dengan berjamaah. Padahal mereka sedang sibuk-sibuknya dengan tugas suci. Kalau dibanding dengan kita memang sangat jauh, padahal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=12&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="post-title entry-title">                          <a href="http://muhammadjamhuri.blogspot.com/2007/06/kedahsyatan-sholat-berjamaah.html">H. Muhammad Jamhuri, Lc.</a></h3>
<p>Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku&#8217;lah beserta orang-orang yang ruku’<br />
(QS. Al-Baqarah; 43)</p>
<p>Hampir selama hidupnya, Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah. Bahkan dalam keadaan perang sekalipun, beliau bersama sahabatnya melaksanakan sholat dengan berjamaah. Padahal mereka sedang sibuk-sibuknya dengan tugas suci.<br />
Kalau dibanding dengan kita memang sangat jauh, padahal kita tidak segenting keadaan perang. Kita bahkan sedang istirhat kerja siang, atau sedang asik menyantap makanan, atau sedang bercumbu dengan keluarga. Namun saat sedang terdengar adzan, kita masih santai saja. Tidak segera berangkat ke masjid atau musholla untuk melaksanakan sholat berjamaah.<br />
<span id="more-12"></span><br />
Suatu hari datang seorang laki-laki buta kepada Rasulullah saw bermaksud ingin meminta keringanan dalam sholat berjamaah karena kondisinya yang buta. Orang buta itu berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidak ada seorang penuntun yang menuntunku ke Masjid, bolehkah aku tidak sholat dengan berjamaah dan cukup sholat di rumah?” Lalu Nabi saw memberi keringanan tentang hal itu, namun tatkala orang itu mau beranjak, Rasulullah saw memanggilnya dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan panggilan sholat?” Orang buta itu menjawab, “Ya”. Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, sambutlah (berangkatlah sholat berjamaah)” (HR: Muslim)<br />
Subhanallah !!, sebegitu pentingnyanya sholat berjamaah hingga kepada orang buta yang tidak ada seorang yang menuntunnya saja Rasulullah masih memerintahkan untuk sholat berjamaah, apalagi dengan kita yang masih sehat bugar?<br />
Bahkan Rasulullah saw hampir-hampir akan membakar rumah orang muslim yang tidak berangkat sholat berjamaah. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku dalam genggamanNya, sungguh aku pernah akan menyuruh mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan untuk shalat, lalu adzan pun dikumandangkan. setelah itu, aku menyuruh orang untuk menjadi imam shalat berjamaah. Lalu aku pergi ke rumah orang-orang yang tidak memenuhi panggilan shalat, dan aku bakar rumah mereka saat mereka berada di dalamnya. “ (HR: Bukhori Muslim).</p>
<p>Mengapa sholat berjamaah begitu penting? Mengapa Rasulullah sangat menekankan sholat berjamaah? Rahasia apa yang ada dibalik sholat berjamaah?<br />
Beberapa keutamaan dan rahasia di balik shalat berjamaah antara lain:</p>
<p>Pertama, Orang yang sholat berjamaah akan mendapat pahala 27 derajat dibanding sholat sendirian. Rasulullah saw bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, dengan dua puluh tujuh derajat” (HR: Bukhori Muslim). Jadi, dengan sholat berjmaaah kualitas sholat kita 27 kali lipat dibanding sholat sendirian. Kalau dianalogikan dengan emas, sholat berjamaah itu 24 karat atau emas murni.</p>
<p>Kedua, Setiap langkah kaki dalam perjalanan kita ke Masjid diangkatnya derajat kita dan dihapuskannya dosa kita. Rasulullah saw bersabda, “Apabila dia wudhu sempurna, kemudian keluar menuju ke masjid dengan niat hanya untuk shalat, maka setiap kali ia melangkah, derajatnya dinaikkan dan kesalahan dosanya dihapuskan” (HR: Bukhori Muslim)</p>
<p>Ketiga, Orang yang sholat berjamaah senantiasa didoakan oleh para malaikat. Rasulullah saw bersabda, “Malaikat akan senantiasa memohonkan ampun dan rahmat untuknya, selama ia masih tetap berada di tempat shalatnya dan tidak berhadast. Malaikat berkata,”Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia” (HR: Bukhori Muslim)</p>
<p>Keempat, Orang yang rajin shalat berjamaah maka akan terhindar dari penguasaan syetan, seperti kesurupan atau kerasukan. Rasuluillah saw bersabda, “Tidaklah tiga orang berada di suatu desa atau kampung lalu mereka tidak melakukan shalat berjamaah, kecuali mereka telah dikuasai oleh syetan” (HR: Abu Daud)</p>
<p>Kelima, Suatu penduduk apabila rajin melaksanakan sholat berjamaah, maka akan diberikan ketentraman, persatuan, persaudaraan dan tidak mudah diprofokasi. Rasulullah saw bersabda, “Karena itu shalatlah dengan berjamaah !, karena srigala itu hanya menerkam kambing yang jauh terpencil dari kawan-kawannya (jamaahnya)” (HR: Abu Daud)</p>
<p>Ketika Erpoa dikuasai Islam berabad-abad lamanya, orang Nasrani ingin merebut kembali Eropa, lalu diuituslah orang di antara mereka untuk menyelidiki kondisi umat Islam. Saat masuk, utusan ini menyaksikan di subuh hari masjid-mesjid penuh sesak dengan orang yang shalat dengan berjamaah, sedang di siang harinya, pemuda muslim merasa sedih hanya dapat memanah satu sasaran dalam latihan memanah dan tidak bisa lebih dari itu. Lalu orang nasrani ini melaporkan temuannya, dan mereka menyimpulkan bahwa orang islam sulit diserang secara fisik. Akhirnya mereka mengirim budak-budak wanita cantik ke negeri Islam. Lalu setelah setahun, mereka menyelidiki kondisi umat Islam lagi, sekarang terlihat masjid-mesjid sepi jamaah di subuh hari, dan pemuda Islam bersedih bukan karena tidak bisa memanah tapi karena wanita. Pada saat itulah orang Nasrani menyerang umat islam, dan akhirnya umat Islam pun hilang dari peta Eropa hingga kini. ##</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=12&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/kedahsyatan-sholat-berjamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4bde433c17e6f1af86cf062f4a0d12f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">auliaepriya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perkembangan Ilmu Ekonomi Islam</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/sejarah-perkembangan-ilmu-ekonomi-islam/</link>
		<comments>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/sejarah-perkembangan-ilmu-ekonomi-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 02:10:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>auliaepriya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/sejarah-perkembangan-ilmu-ekonomi-islam/</guid>
		<description><![CDATA[H. Muhammad Jamhuri, Lc. Pendahuluan Membicarakan sistem ekonomi Islam secara utuh, tidak cukup dikemukakan pada tulisan yang sempit ini, karena sistem ekonomi Islam mencakup beberapa segi dan mempunyai ketergantungan dengan beberapa disiplin ilmu lainnya sebagaimana juga yang ditemukan pada studi ekonomi umum. Persolan sistem bank syari’ah hanyalah sebagian kecil dari sederetan masalah-masalah yang terdapat dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=11&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 class="post-title entry-title">                          <a href="http://muhammadjamhuri.blogspot.com/2007/07/sejarah-perkembangan-ilmu-ekonomi-islam.html">H. Muhammad Jamhuri, Lc.</a></h3>
<p><strong><span style="color:#cc0000;">Pendahuluan</span></strong><br />
Membicarakan sistem ekonomi Islam secara utuh, tidak cukup dikemukakan pada tulisan yang sempit ini, karena sistem ekonomi Islam mencakup beberapa segi dan mempunyai ketergantungan dengan beberapa disiplin ilmu lainnya sebagaimana juga yang ditemukan pada studi ekonomi umum. Persolan sistem bank syari’ah hanyalah sebagian kecil dari sederetan masalah-masalah yang terdapat dalam studi ekonomi Islam.<br />
Kendati demikian, sistem ekonomi Islam mempunayi ciri khas dibanding sistem ekonomi lain (kapitalis-sosialis). Dr. Yusuf Qordhowi, pakar Islam kontemporer dalam karyanya “Daurul Qiyam wal akhlaq fil iqtishod al-Islamy” menjelskan empat ciri ekonomi Islam, yaitu ekonomi robbani, ekonomi akhlaqy, ekonomi insani dan ekonomi wasati. Keempat ciri tersebut mengandung pengertian bahwa ekonomi Islam bersifat robbani, menjunjung tinggi etika, menghargai hak-hak kemanuisaan dan bersifat moderat.<br />
<span id="more-11"></span><br />
<strong><span style="color:#cc0000;">Perkembangan Studi Islam</span><br />
</strong>Sejarah perkembangan studi ekonomi Islam dapat dibagi pada empat pase:<br />
Pase pertama, masa pertumbuhan<br />
Pase kedua, masa keemasan<br />
Pase ketiga, masa kemunduran dan<br />
Pase keempat, masa kesadaran</p>
<p><span style="color:#cc0000;"><strong>Masa Pertumbuhan</strong><br />
</span>Masa pertumbuhan terjadi pada awal masa berdirinya negara Islam di Madinah. Meskipun belum dikatakan sempurna sebagai sebuah studi ekonomi, tapi masa itu merupakan benih bagi tonggak-tonggak timbulnya dasar ekonomi Islam. Secara amaliyah, segala dasar dan praktek ekonomi Islam sebagai sebuah sistem telah dipraktekkan pada masa itu, tentunya dengan kondisi yang amat sederhana sesuai dengan masanya. Lembaga keuangan seperti bank dan perusahan besar (PT) tentunya belum ditemukan. Namun demikian lembaga moneter di tingkat pemerintahan telah ada, yaitu berupa Baitul Mal. Perusahaan (PT) pun telah dipaktekkan dalam skala kecil dalam bentuk musyarakah.</p>
<p><span style="color:#cc0000;"><strong>Masa Keemasan</strong><br />
</span>Setelah terjadi beberapa perkembangan dalam kegiatan ekonomi, pada abad ke 2 Hijriyah para ulama mulai meletakkan kaidah-kaidah bagi dibangunnya sistem ekonomi Islam di sebuah negara atau pemerintahan. Kaidah-kaidah ini mencakup cara-cara bertransaksi (akad), pengharaman riba, penentuan harga, hukum syarikah (PT), pengaturan pasar dan lain sebagainya. Namun kaidah-kaidah yang telah disusun ini masih berupa pasal-pasal yang tercecer dalam buku-buku fiqih dan belum menjadi sebuah buku dengan judul ekonomi Islam.<br />
Beberapa karya fiqih yang mengetengahkan persoalan ekonomi, antara lain:<br />
Fiqih Mazdhab Maliki:<br />
Al-Mudawwanah al-Kubrto, karya Imam Malik (93-179 H)<br />
Bidayatul Mujtahid, karya Ibnu Rusyd (wafat 595 H)<br />
Al-Jami’ Li Ahkam al-Quran, karya Imam al-Quirthubi (wafat 671 H)<br />
Al-Syarhu al-Kabir, karya Imam Ahmad al-Dardir (wafat 1201 H)<br />
Fiqih Mazdhab Hanafi:<br />
Ahkam al-Quran, karya Imam Abu Bakar Al-Jassos (wafat 370 H)<br />
Al-Mabsut, karya Imam Syamsuddin al-Syarkhsi (wafat 483 H)<br />
Tuhfah al-Fuqoha, karya Imam Alauddin al-Samarqandu (wafat 540 H)<br />
Bada’i al-Sona’i, karya Imam Alauddin Al-Kasani (wafat 587 H)<br />
Fiqih Mazdhab Syafi’I:<br />
Al-Umm, karya Imam Syafi’I (150-204 H)<br />
Al-Ahkam al-Sulthoniyah, karya Al-Mawardi (wafat 450 H)<br />
Al-Majmu’, karya Imam An-Nawawi (wafat 657 H)<br />
Al-Asybah Wa al-Nadzoir, karya Jalaluddin al-Suyuthi (wafat 911 H)<br />
Nihayah al-Muhtaj, karya Syamsuddin al-Romli (wafat 1004 H)<br />
Fiqih Mazdhab Hambali:<br />
Al-Ahkam al-Sulthoniyah, karya Qodhi Abu Ya’la (wafat 458 H)<br />
Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah (wafat 620 H)<br />
Al-Fatawa al-Kubro, karya Ibnu Taimiyah (wafat 728 H)<br />
A’lamul Muwaqi’in, karya Ibnu qoyim al-Jauziyah (wafat 751 H)</p>
<p>Dari kitab-kitab tersebut, bila dikaji, maka akan ditemukan banyak hal tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan ekonomi Islam, baik sebagai sebuah sistem maupun keterangan tentang solusi Islam bagi problem-problem ekonomi pada masa itu.<br />
Ibnu Hazm dalam kitabnya “Al-Muhalla” misalnya, memberi penjelasan tentang kewajiban negara menjamin kesejahteraan minimal bagi setiap warga mengara. Konsep ini telah melampaui pemikiran ahli ekonomi saat ini. Demikian pula halnya dengan karya-karya fiqih lain, ia telah meletakkan konsep-konsep ekonomi Islam, seperti prinsip kebebasan dan batasan berekonomi, seberapa jauh intervensi negara dalam kegiatan roda ekonomi, konsep pemilikan swasta (pribadi) dan pemilikan umum dan lain sebagainya.</p>
<p>Karya-karya Khusus Tentang Ekonomi<br />
Meskipun permasalahan ekonomi telah dibahas secara acak pada buku-buku fiqih, namun pada pase ini terdapat juga karya-karya tentang ekonomi Islam yang membahas secara khusus tentang ekonomi. Karya-karya ini tentunya telah mendahului karya-karya ahli ekonomi Barat saat ini, sebab karya-karya kaum muslimin dalam bidang ini telah ada sejak abad ke 7 M<br />
Karya-karya tersebut antara lain:<br />
Kitab Al-Khoroj, karya Abu Yusuf (wafat 182 H/762 M)<br />
Abu Yusuf adalah seorang qadli (hakim) pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Pada saat iitu Harun al-Rasyid meminta beliau menulis tentang pendapatan negara dalam bentuk khoroj (sejenis pajak), zakat, jizyah dan lainnya untuk dijadikan pegangan hukum negara (semacam KUHP sekarang). Dalam mukaddimahnya, Abu Yusuf menulis: “Telah saya tulis apa yang menjadi permintaan tuan, saya pun telah menjelaskannya secara rinci. Oleh karena itu pelajarilah. Saya telah bekerja keras untuk itu dan saya berharap agar tuan dan kaum muslimin memberi masukan. Hal itu karena semata-mata mengharap ridho Allah serta takut akan azabNya. Bila kitab ini sudah jelas, saya berharap agar tuan tidak memungut pajak dengan cara-cara yang zalim dan berbuat tidak baik terhadap rakyat tuan”.<br />
Kitab Al-Khoroj, karya Imam Yahya al-Qursyi (204 H/774 M)<br />
Kitab Al-Amwal, karya Abu Ubaid bin Salam (wafat 224 H/774 M)<br />
Kitab ini telah banyak ditahkik dan dita’liq (dikomentari) oleh Muhammad Hamid Al-Fahi, salah seorang ulama Al-Azhar. Kitab ini pun termasuk kitab terlengkap dalam membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan harta di Daulah Islamiyah.<br />
Al-Iktisab Fi al-Rizqi, karya Imam Muhammad al-syaibani (wafat 334 H/815 M)<br />
Dan karya-karya lainnya seperti karya Ibnu Kholdun, Al-Maqrizi, Al-Aini dan lain-lain<br />
Di penghujung abad 14 dan 15 M merupakan titik awal bagi adanya aliran keilmiahan dalam bidang ekonomi modern. Bahkan Syaikh Mahmud Syabanah, mantan wakil rektor Al-Azhar menyatakan bahwa kitab “Mukaddimah” karya Ibnu Kholdun yang terbit pada tahun 784 H atau sekitar abad 13 hingga 14 M adalah bentuk karya yang mirip dengan karya Adam Smith. Bahkan dalam karyanya, ibnu Kholdun juga menulis tentang asas-asas dan berkembangnya peradaban, produktifitas sumber-sumber penghasilan, bentu-bentuk kegiatan ekonomi, teori harga, migrasi penduduk dan lain-lain. Sehingga isi kedua karya ini hampir sama. Perbedaannya hanya terletak pada kondisi dan lingkungan.</p>
<p><span style="color:#cc0000;"><strong>Masa Kemunduran</strong><br />
</span>Dengan ditutupnya opintu ijihad, maka dalam menghadapi perubahan sosial, prinsip-prinsip Islam pada umumnya dan prinsip ekonomi khususnya, tidak berfungsi secara optimal, karena para ulama seakan tidak siap dan berani untuk langsung menelaah kembali sumber asli tasyri’ dalam menjawab perubahan-perubahan tersebut. Mereka lebih suka merujuk pada pendapat imam-imam mazdhab terdahulu dalam mengistimbat suatu hukum, sehingga ilmu-ilmu keislaman lebih bersifat pengulangan dari pada bersifat penemuan.<br />
Tradisi taklid ini menimbulkan stagnasi (kejumudan) dalam mediscover ilmu-ilmu baru, khususnya dalam menjawab hajat manusia di bidang ekonomi. Padahal ijtihad adalah sumber kedua Islam setelah al-Quran dan as-Sunnah. Dan pukulan telak terhadap Islam adalah ketika ditutupnya pintu ijtihad tersebut.</p>
<p><span style="color:#cc0000;"><strong>Masa Kesadaran Kembali</strong><br />
</span>Sejak ditutupnya pintu ijtihad pada abad 15 H, hubungan antara sebagian masyarakat dengan penerapan syariat Islam yang sahih menjadi renggang. Sebagaimana juga telah terhentinya studi-studi tentang ekonomi Islam, hingga sebagian orang telah lupa sama sekali, bahkan ada sebagian pihak yang mengingkari istilah “ekonomi Islam”. Ajaran Islam akhirnya terpojok pada hal-hal ibadah mahdloh dan persoalan perdata saja. Lebih ironis lagi sebagian hal itu pun masih jauh dari ajaran Islam yang benar.<br />
Namun demikian, meskipun studi ilmiah modern dalam bidang ekonomi masih sangat terbatas, namun usaha-usaha telah dilakukan, antara lain:<br />
Pertama, studi ekonomi mikro. Dalam hal ini studi terfokus pada masalah-masalah yang terpisah, seperti pembahasan tentang riba, monopoli, penentuan harga, perbankan, asuransi kebebasan dan intervensi pemerintah pada kegiatan ekonomi dan lain-lain. Langkah ini terlihat dari diadakannya beberapa seminar dan muktamar, antara lain:<br />
Muktamar Internasional tentang fiqih Islam<br />
Pada Muktamar Fiqih Islam pertama yang diadakan di Paris tahun 1951 dibahas masalah-masalah yang berhubungan dengan ekonomi, riba dan konsep pemilikan.<br />
Muktamarr Fiqih Islam kedua diadakan di Damaskus pada bulan April 1961. Dalam muktamar tersebut dibahas tentang asuransi dan sistem hisbah (pengawasan) menurut Islam.<br />
Muktamar Fiqih Islam ketiga diadakan di Kairo pada Mei 1967, membahas tentang asuransi sosial (takaful) menurut Islam<br />
Muktamar Fiqih Islam keempat diadakan di Tunis pada bulan Januari 1975, membahas masalah pemalsuan dan monopoli.<br />
Muktamar Fiqih Islam kelima diadakan di Riyadh pada bulan Nopember 1977 membahas tentang sistem pemilikan dan status sosial menurut Islam.<br />
Muktamar Fiqih Islam sedunia, diadakan di Riyadh juga yang diorganisir oleh Universitas Imam Muhammad bin Saud pada tanggal 23 Oktober hingga Nopemebr 1976, membahas tentang perbankan Islam antara teori dan praktek dan pengaruh penerapan ekonomi Islam di tengah-tengah masyarakat.<br />
Muktamar Lembaga Riset Islam di Kairo. Dalam hal ini sedikitnya telah delapan kali mengadakan muktamar yang membahas tentang ekonomi Islam.<br />
Pertemuan studi sosiologi negara-negara Arab.<br />
Seminar Dewan Pembinaan Ilmu Pengetahuan, satra dan sosial (seksi ekonomi dan keuangan).<br />
Muktamar Ekonomi Islam Internasional, antara lain: Muktamar Ekonomi Islam Sedunia pertama , diadakan di Makkah pada tanggal 21-26 Pebruari 1976 dan Muktamar ekonomi Islam, diadakan di London pada bulan Juli 1977.<br />
Hingga saat ini buku-buku tentang ekonomi Islam, baik dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris serta bahasa lainnya dapat kita temukan di toko-toko buku. Buah dari semaraknya studi-studi ekonomi Islam ini membuahkan berdirinya bank-bank Islam, baik dalam skala nasional maupun internasional. Dalam skala internasional misalnya, telah berdiri Islamic Development Bank (IDB/Bank Pembangunan Islam) yang kantornya berkedudukan di Jeddah Saudi Arabia. Dalam agreemen establishing the islamic Development Bank (anggaran dasar IDB) pada article 2 disebutkan bahwa salah satu fungsi dan kekuatan IDB pada ayat (xi) adalah melaksanakan penelitian untuk kegiatan ekonomi, keuangan dan perbankan di negara-negara muslim dapat sejalan dengan syari’ah. IDB juga telah memberikan bantuan teknis, baik dalam bentuk mensponsori penyelenggaraan seminar-seminar ekonomi dan perbankan Islam di seluruh dunia maupun dalam bentuk pembiayaan untuk tenaga perbankan yang belajar di bank Islam serta tenaga ahli bank yang ditempatkan di bank Islam yang baru berdiri.<br />
Bukti lain maraknya pelaksanaan ekonomi Islam adalah laporan dari data yang diambil dari Directory Of Islamic Financial Institutions tahun 1988 terbitan IRTI/IDB bahwa sedikitnya telah 32 bank Islam berdiri (sebelum Bank Muamalat Indonesia berdiri) di seluruh dunia, termasuk di Eropa. Bila di Indoneisa banyak bank konvensional beralih bentuk ke bank syari’ah, berarti pertumbuhan bank syari’ah semakin cepat dan diminati oleh kalangan usahawan, belum lagi pertumbuhan bank syari’ah di negara lain dalam dekade ini, seperti di Malaysia dan negara-negara Islam lainnya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=11&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/sejarah-perkembangan-ilmu-ekonomi-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4bde433c17e6f1af86cf062f4a0d12f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">auliaepriya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Silaturrahim Akbar DPC Karang Tengah</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/silaturrahim-akbar-dpc-karang-tengah/</link>
		<comments>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/silaturrahim-akbar-dpc-karang-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 01:11:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>auliaepriya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/silaturrahim-akbar-dpc-karang-tengah/</guid>
		<description><![CDATA[Hari Ahad, 28 Oktober 2007 Jam 08.30 &#8211; selesai Tempat Rumah Makan PUJASERA<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=10&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Ahad, 28 Oktober 2007</p>
<p>Jam 08.30 &#8211; selesai</p>
<p>Tempat Rumah Makan PUJASERA</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=10&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/silaturrahim-akbar-dpc-karang-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4bde433c17e6f1af86cf062f4a0d12f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">auliaepriya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengejar Sorga Sejak di Dunia</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/mengejar-sorga-sejak-di-dunia/</link>
		<comments>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/mengejar-sorga-sejak-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 01:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>auliaepriya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/mengejar-sorga-sejak-di-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Oleh: Dewan Asatidz (pesantrenvirtual.com) Sebagian orang mengukur kebahagiaannya dengan sukses di dunia semata, sementara akhiratnya terbelengkalai. Ada juga yang mengukur kebahagiaan dengan amal-amal akhirat saja, sedang kehidupan duniawinya tercerai berai. Keduanya tidak sehat. Yang bagus adalah bila kita bisa menjadikan sukses di dunia sebagai bagian dari sukses di akhirat. Sebagian orang mengukur kebahagiaannya dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=9&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table class="contentpaneopen">
<tr>
<td class="contentheading" width="100%">&nbsp;</td>
<td class="buttonheading" align="right" width="100%"><a href="http://www.pesantrenvirtual.com/index2.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=975&amp;pop=1&amp;page=0&amp;Itemid=8" title="Cetak halaman ini" target="_blank"><br />
</a></td>
<td class="buttonheading" align="right" width="100%"><a href="http://www.pesantrenvirtual.com/index2.php?option=com_content&amp;task=emailform&amp;id=975&amp;itemid=8" title="Kirim halaman ini ke teman via E-mail" target="_blank"><br />
</a></td>
</tr>
</table>
<table class="contentpaneopen">
<tr>
<td colspan="2" align="left" valign="top" width="70%"><span class="small">Oleh: Dewan  Asatidz (pesantrenvirtual.com) </span></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">Sebagian orang mengukur kebahagiaannya dengan sukses di  dunia semata, sementara akhiratnya terbelengkalai. Ada juga yang mengukur  kebahagiaan dengan amal-amal akhirat saja, sedang kehidupan duniawinya tercerai  berai. Keduanya tidak sehat. Yang bagus adalah bila kita bisa menjadikan sukses  di dunia sebagai bagian dari sukses di akhirat. Sebagian orang mengukur  kebahagiaannya dengan sukses di dunia semata, sementara akhiratnya  terbelengkalai. Ada juga yang mengukur kebahagiaan dengan amal-amal akhirat  saja, sedang kehidupan duniawinya tercerai berai. Keduanya tidak sehat. Yang  bagus adalah bila kita bisa menjadikan sukses di dunia sebagai bagian dari  sukses di akhirat. Bahkan itulah sebenamya pola yang di inginkan oleh Islam.  Bagaimana caranya?</p>
<p><span id="more-9"></span>Caranya dengan menjadikan semua aktifitas duniawi kita  memiliki nilai-nilai kesuksesan di akhirat. Banyak pekerjaan dan prestasi yang  sepertinya duniawi an-sich, tetapi bila dijalankan dengan baik dan benar mulai  dari niatnya hingga tata caranya- akan menjadi prestasi sekaligus tabungan amal  di akhirat. Dengan teori seperti itu, sebenamya kebutuhan kita kepada  prestasi-prestasi duniawi sangat besar, dalam rangka menambah tabungan untuk  akhirat tersebut. Sebab, bila kita hanya ingin memperbanyak amal kebaikan dari  jalur ibadah formal, akan banyak keterbatasan yang kita hadapi. Berapa banyakkah  kita mampu berpuasa sunnah? Berapa ratus raka&#8217;atkah kita mampu sholat sunnah?  Bukan berarti memperbanyak ibadah formal tidak kita kejar. Tetapi yang kita  lakukan adalah menambahkah kepada amal ibadah formal tersebut amal duniawi yang  bemilai amal akhirat. Ibarat pepatah, sekali mendayung, dua tiga pulau  terlampaui. Dengan demikian, bila amal ibadah formal kita sedikit, akan menjadi  banyak dengan prestasi duniawi itu. Dan, bila amal ibadah formal kita sudah  banyak, akan semakin banyak dengan tambahan amal dan prestasi duniawi tersebut.  Maka, alangkah benar definisi ibadah yang dinyatakan oleh imam Ibnu Taimiyah,  &#8220;lalah apa yang diridhai Allah, dari perbuatan lahir dan batin. &#8221; Berikut ini  adalah beberapa contoh prestasi dan amal duniawi yang bisa menjadi bagian dari  prestasi akhirat: 1. Mencari mata pencarian Bagi sebagian orang yang mencari  mala pencarian dan penghidupan (Ma&#8217;isyah) mungkin semata-mata hanya pekerjaan  duniawi. Artinya, itu hanya soal mencari makan dan minum. Atau mencari sesuap  dua suap nasi, selembar dua lembar liang, untuk dirinya, maupun keluarganya.  Kita tidak boleh membatasi status pencarian penghidupan itu sebagai karya  duniawi an-sich. Tetapi sebaliknya, kita harns menjadikannya sebagai bagian dari  tabungan untuk kehidupan akhirat. Dengan teori seperti itu sebenamya kita  mendapatkan dua keuntungan sekaligus: sukses di dunia, dan insya Allah SWT  sukses pula di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Diantara dosa-dosa, ada dosa  yang tidak bisa dihapus oleh shalat, tidak pula oleh puasa, tidak pula oleh  hajj, tetapi bisa dihapus dengan kelelahan mencari mala pencarian&#8221;. (HR.  Thabrani). Bahkan, nafkah batin yang diberikan kepada istri sekalipun adalah  tabungan untuk hari akhirat. 2. Mengalami musibah, seperti sakit dan semisalnya  Musibah yang menimpa kita, seperti sakit, ditinggal mati orang-orang yang kita  cintai, dan berbagai masalah hidup yang tidak enak mernpakan peristiwa yang  menghiasi kehidupan dunia kita. Sebagian orang secara sempit menganggapnya  sebatas kejadian-kejadian alamo Tetapi kita harus menjadikan semua itu tabungan  untuk kehidupan akhirat kelak. Dengan cara menyabarkan diri, memohon balasan  dari Allah SWT serta menyimpannya sebagai tabungan (ihtisab) di sisi-Nya. Pada  saat yang sama kita berobat bila kita sakit, mencari jalan keluar bila ada  kesulitan, serta berikhtiar menyelesaikan segala masalah dan musibah yang  terjadi. Rasulullah SA W bersabda, &#8220;Tidaklah kesulitan dan sakit menimpa seorang  muslim, tidak juga kegalauan, kesedihan, duka dan behan, hingga duri yang  mengenai kakinya, kecuali menjadi penebus sebagian dari kesalahan-kesalahannya&#8221;.  (HR. Bukhori dan Muslim, dari Abu Said dan Abu Hurairah). Dalam kesempatan lain,  Rasulullah SAW juga menegaskan, bahwa Allah SWT dalam hadist Qudsi berfirman,  &#8220;Tidaklah ada balasan bagi seorang hambaKu bila aku dipanggil orang yang di  cintainya dari dunia, lalu ia bersabar dan memohon balasan (kepada-Ku) kecuali  baginya adalah surga&#8221;. (HR. Bukhori dari Abu Hurairah). 3. Menuntut Ilmu Salah  satu karya dan prestasi duniawi yang dilakukan banyak orang adalah menuntut  ilmu. Dari ilmu itu orang lantas memiliki beragam keahlian, yang dengannya ia  menopang tuntutan hidupnya di dunia. Tetapi kita harus menjadikannya sebagai  kesuksesan akhirat. Dengan cara bersabar menekuni ilmu yang kita tuntut hingga  sampai pada taraf ahli, mengajarkan ilmu tersebut, serta memanfa&#8217;atkannya untuk  maslahat Islam, kaum muslim in, secara kemanusiaan pada umumnya. Tak berlebihan,  bila orang-orang yang berilmu, secara teori lebih bisa takut kepada Allah SWT.  Tak berlebihan pula, bila Allah SWT menjanjikan bagi orang-orang yang beriman  dan menuntut ilmu derajat yang tinggi. 4. Melakukan pekerjaan &#8216;ringan&#8217; dan  terkesan &#8216;sepele&#8217;. Banyak pekerjaan duniawi yang terkesan kecil dan biasa.  Tetapi ia sebenamya bisa menjadi tabungan amal di akhirat. Seperti meminggirkan  duri dari jalanan. ltu pekerjaan sepele, tetapi dengan niat menabung amal di  sisi Allah SWT, ia akan berubah menjadi amal shalih di sisi Allah SWT. Juga  tersenyum kepada sesama saudara muslim, mengucapkan salam, mengasihi binatang.  Rasulullah SA W pemah mengisahkan tentang wanita nakal yang di ampuni Allah SWT  dan di masukan ke surga, setelah memberi air minum seekor anjing yang nyaris  mati kelaparan. Akhimya wanita itu yang mati. Sebaliknya, dalam riwayat lain,  dari Ibnu Umar, Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan kisah tentang seorang wan  ita yang masuk neraka karena mengerangkeng seekor kucing. Kucing itu tidak ia  beri makan hingga mati. 5. Melakukan pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan  memakmurkan bumi. Dalam beberapa ayat Allah SWT melarang kita melakukan  kerusakan di muka bumi. Sebaliknya, Allah SWT menyuruh kita memakmurkan bumi,  memanfa&#8217;atkan sebaik mungkin. Bumi dan segala yang ada di atasnya di peruntukkan  Allah SWT bagi manusia. &#8220;Dialah Allah, yang manjadikan segala yang ada di bumi  untuk kamu&#8221;. (QS Al-Baqoroh: 29). Dalam ayat lain Allah berfirman, &#8220;Dialah yang  menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan  makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali  setelah) dibangkitkan. &#8221; (QS Al-Mulk: 15). Karenanya, segala profesi dan  prestasi yang terkait dengan memakmurkan bumi bisa bemilai tabungan amal shalih  di akhirat kelak. Melindungi hutan dari penebangan liar, menjaga kebersihan  kali, memaksimalkan kekayaan laut, mengeluarkan tambang di perot bumi,  memperjuangkan proyek-proyek penjagaan lingkungan, melakukan penyuluhan  kesehatan masyarakat, juga memberdayakan potensi-potensi alam dengan  tekhnologinya, demi maslahat kehidupan umat manusia adalah sedikit contoh dari  memakmurkan bumi. Maka, siapa saja dari kaum muslim in yang menekuni  profesi-profesi tersebut harus bangga dan bersyukur, karena mereka punya tempat  menabung amal shalih yang besar untuk hari akhir kelak melalui profesi-profesi  tersebut. Yang dibutuhkan tinggal bagaimana menjalaninya dengan ikhlas untuk  Allah SWT dan dengan tata cara yang halal, serta mendukung profesi tersebut  dengan kemampuan dan keahlian yang semestinya. 6. Melakukan pekerjaan yang  dampak baiknya dirasakan banyak orang. Tabungan untuk hari akhirat juga bisa  kita lakukan pada pekerjaan duniawi yang maslahatnya berpulang kepada orang  lain, terutama bila orang itu dalam jumlah besar. Baik karena posisi pekerjaan  itu strategis, atau memang secara langsung bersinggungan dan berurusan dengan  orang banyak. Pemahkah kita menyadari betapa berharganya pekerjaan para tukang  sampah? Bukankah jerih payah mereka mengangkuti sampah menjadikan ribuan orang  merasa nyaman? Demikian juga pekerjaan lain, para dokter yang dengan berani  mengunjungi wilayah-wilayah konflik dan perang untuk menyelamatkan ratusan  nyawa, mengobati ribuan korban luka-Iuka. Atau mereka yang berada di tempat  strategis yang berkait erat dengan maslahat orang banyak. Seperti pekerjaan  anggota dewan yang menggolkan undang-undang tertentu bagi kebaikan umat,  misalnya, seorang pemilik perusahaan yang mengkaryakan ribuan orang, begitu  seterusnya. Termasuk dalam hal ini adalah mereka yang prestasinya dinikmati  masyarakat luas secara terns menerus tanpa putus asa. ltulah yang kita kenaI  dengan &#8216;amal jariyah &#8216;. Seperti dalam istilah Rasulullah SAW, &#8220;Sebaik-baiknya  manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. &#8221; Atau dalam bahasa  al-Qur&#8217;an, beratnya timbangan amal tentu juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya  amal. &#8220;Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia  berada dalam kehidupan yang memuaskan. &#8221; (QS Al-Qori &#8216;ah: 6- 7). Begitulah,  semangat menabung untuk hari akhirat, harus kita cari dari segala kesibukan kita  di dunia, tidak saja dengan ibadah formal. Dengan begitu kita bisa sebanyak  mungkin menanam kebaikan. Barang siapa menanam kebaikan akan menuai kebahagiaan.  Nilai-nilai luhur itu pula yang di tanamkan Luqman AI-Hakim kepada anaknya  tercinta, &#8220;Hai anakku sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji  sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah  akan mendatangkan (balasan)nya. &#8221; (QS Luqman 16). Semoga Allah SWT masih memberi  kita kesempatan, untuk menabung sebanyak mungkin prestasi dan amal kebaikan.  Zainal Arifin</td>
</tr>
</table>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=9&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/mengejar-sorga-sejak-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4bde433c17e6f1af86cf062f4a0d12f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">auliaepriya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Da&#8217;i dan Keletihan</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/dai-dan-keletihan/</link>
		<comments>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/dai-dan-keletihan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 00:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>auliaepriya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/dai-dan-keletihan/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:Shahril Atiki Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang berakal. Dikurniakan deria yang lengkap dan sempurna, mempunyai pelbagai kelebihan dan kekuatan. Akal yang dikurniakan mengangkat darjat manusia melebihi makhluk yang lainnya. Namun, tidak dinafikan ada manusia yang Allah kategorikan lebih hina dari haiwan ternakan. Moga Allah menjauhkan kita dari golongan manusia yang diazab kelak. Diciptakan pula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=8&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2" face="Verdana">Oleh:Shahril Atiki<br /></font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana"><img vspace="2" align="left" width="150" src="//C:\Users\Abu Nida\Documents\Tarbiyah\Materi download\Daie dan Keletihan Masing-Masing  Dakwah-Info.mht!x-usc:http://galerikeadilan.net/data/media/12/P1050329.JPG" hspace="2" alt="ikhwah" height="150" />Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang berakal. Dikurniakan deria yang lengkap dan sempurna, mempunyai pelbagai kelebihan dan kekuatan. Akal yang dikurniakan mengangkat darjat manusia melebihi makhluk yang lainnya. Namun, tidak dinafikan ada manusia yang Allah kategorikan lebih hina dari haiwan ternakan. Moga Allah menjauhkan kita dari golongan manusia yang diazab kelak. Diciptakan pula manusia berbeza-beza, dari warna kulit yang pelbagai kepada sikap yang beraneka ragam. Semuanya untuk manusia mencari kelebihan dan kekurangan serta mengenali dan memahami segenap sifat dan sikap yang ada. Atas perbezaan yang wujud ini, pastinya ada yang lebih dari yang lain dan ada juga yang kurang berupaya dari yang lain. Di sinilah timbulnya optimalisasi sumber manusia dalam menjadikan kehidupan lebih baik dan sempurna.<a id="more-267"></a></font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana"> <span id="more-8"></span>           Di dalam sesebuah organisasi yang mempunyai tenaga kerja yang banyak dan pelbagai, optimalisasi sumber manusia merupakan satu aspek yang amat penting agar tidak berlaku ‘pembaziran’ tenaga dan kemahiran. Seperti itu jugalah di dalam medan da’wah, tidak relevan jika manusia dikumpulkan di bawah satu panji yang sama namun tidak tersusun dan tidak dimanfaatkan segenap tenaga dan kemahiran yang ada untuk memantapkan lagi pergerakan da’wahnya. Amal jama’i yang dituntut di medan da’wah seharusnya mempunyai penerapan yang langsung dalam jiwa setiap aktivis da’wah untuk ke hadapan memanfaatkan tenaga dan kemahiran yang ada padanya untuk mencapai matlamat da’wah islam, melalui sistem yang digariskan jemaah. Jauh dari keinginan untuk sebuah organisasi memiliki ahli atau individu yang berkebolehan tetapi bertindak melulu tanpa memikirkan matlamat organisasinya secara menyeluruh.</font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">            Di sinilah timbulnya kepentingan untuk kita mengintrospeksi diri masing-masing untuk mengenal kelemahan dan kelebihan yang ada agar dapat disalurkan dengan betul di dalam usaha da’wah kita. Mengenali diri sendiri sememangnya dapat membuatkan kita memperbaiki kelemahan yang ada, baik atas usaha sendiri, mahupun dengan bantuan sahabat lain. Kelemahan yang dikenalpasti dapat memperlahankan perjalanan da’wah jemaah secara menyeluruh seharusnya diberi perhatian yang khusus oleh individu itu sendiri apatah lagi oleh pembimbingnya. Di sini pentingnya sikap ikhlas dan berlapang dada dalam menerima kekurangan diri dan untuk menerima teguran yang kelak akan membantu kita memperbaiki diri, sekaligus jemaah. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">            Namun fokus artikel ini adalah untuk kita menjadi lebih sensitif dengan persekitaran terutamanya dengan sahabat lain yang turut sama dalam usaha da’wah islam ini. Seolah-olah menjadi tabii aktivis mempunyai rasa segan dan takut untuk menegur sahabat sendiri yang melakukan kesilapan ataupun mempunyai kekurangan diri yang boleh jadi berpotensi dalam menggugat usaha da’wah kita. Segan dan takut di situasi ini merupakan sesuatu yang tidak relevan dan seharusnya jauh dari sanubari kita. Kepekaan kita terhadap masalah sahabat yang lain menjadi tanda pengukur ukhuwah kita. Sesungguhnya ukhuwah itu tidak diukur dengan relanya kita berlapar demi kesenangan sahabat atau keletihan kita demi keselesaan mereka atau seumpamanya tetapi lebih utama lagi, sejauh mana kita berusaha untuk membawanya kepada Allah s.w.t. Sikap dan sifat yang seperti bercampur-baur dengan jahiliyyah seharusnya ditepis dari hinggap di kalangan aktivis islam sekalian. Lalu usaha untuk mengelakkannya memerlukan bantuan mata luar untuk memerhati dan mentafsir dengan jujur dan ikhlas. Di sinilah peranan sahabat menjadi amat signifikan, seperti pulau di tengah lautan memberi harapan kepada nelayan yang hilang arah.</font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">            Adapun usaha membantu memperbaiki diri orang lain memerlukan kita mengenali beberapa aspek penting agar tidak terlanjur menjadi batas pemula perpecahan. Tidak sekalipun ia dianggap menjadi objek perendahan, baik yang menegur mahupun yang ditegur. Atas niat ikhlas kerana Allah dan dengan kasih dan sayang, kita berusaha memberi dan menerima teguran. Kasih dan sayang…sesuatu yang subjektif untuk diterangkan tetapi dapat dirasai, bukan? Jadi soal kembali diri kita, sejauh mana persahabatan yang terjalin itu kerana Allah s.w.t.? Atau hanya kerana bersama di jalan da’wah? “Da’wah”? Pentingnya untuk kita menetapkan niat dan perasaan bersahabat itu hanya kerana Allah adalah supaya kita mampu menilai dan bertolak ansur dengan sikap dan sifat yang ada pada seseorang tanpa rasa benci yang disuap syaitan. Perlu jelas bahawa yang dibenci adalah sikap, bukan individu. Jadi dengan kasih dan sayang kita terhadap sahabat itu, jauh sekali dari wajar untuk kita menjauhkan diri darinya, bahkan dihampiri dan diperbaiki akhlaknya agar tiada yang kita benci padanya sepertimana tiada yang kita benci pada diri kita sendiri. Alternatif yang wujud dalam proses memperbaiki seorang sahabat punya tiga, sepertimana yang digariskan Eko Novianto dalam bukunya “Sudahkah Kita Tarbiyyah? : Refleksi seorang Mutarrabi”. Pertama melalui persahabatan yang telah terjalin. Kedua melalui orang-orang yang diketahui bertanggungjawab terhadap seseorang individu itu dan ketiganya melalui struktur organisasi yang terlibat. Fokus di sini adalah berkenaan peranan kita di kalangan dai’e sebagai seorang sahabat.</font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">            Jadi bagaimana kita berusaha membantu sahabat kita? Langkah bagaimana harus diambil agar usaha mendatangkan hasil dan hasil melalui kaedah yang efektif? Sekali lagi kita membincangkan sesuatu yang subjektif, tetapi masih relevan untuk diusulkan cadangan. Memang menjadi amalan yang amat sukar untuk menegur rakan sebaya. Alasan paling popular; “Takut kecil hati nanti”. Habis bagaimana pula kecil peluang untuk ke syurga dan untuk memantapkan da’wah? Yang penting cara <em>approach</em> berhikmah dan tidak semberono. Da’wah dengan memudahkan, bukan menyusahkan. Ada pula yang merasakan ia bukan satu amal da’wah yang besar walhal yang menganjurkan kepada yang baik itu adalah amal da’wah juga. Bukan hanya kepada yang tidak punya fikrah dan tidak kenal islam, tetapi juga di kalangan sahabat handai yang berjuang di jalan Allah. Mana mungkin kita mampu redha dan berlapang dada saat melihat gagasan da’wah ini dititipi dengan jaihliyah dan kerosakan yang dikendong oleh kafilahnya sendiri? Ataukah kita tersilap tatkala melabel diri kita aktivis islam? </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">            Sebenarnya disinilah merupakan satu anjakan paradigma untuk aktivis muda, terutamanya di kampus, mula berfikir lebih luas dan lebih kreatif. Penyelesaian masalah yang pelbagai memerlukan kaedah berfikir yang lebih luas tetapi masih di dalam kotak syari’e yang ditetapkan, tanpa kompromi. Dari metode da’wah dengan masyarakat kampus yang tipikal kepada metode da’wah umum yang kebiasaannya melibatkan pelbagai lapisan pemikiran dan ragam pendapat. Dari yang selemah-lemah iman kepada yang berkobar semangat tak tentu arah, semuanya memerlukan kita berfikir dan melaksanakan. Jangan hanya berfikir, nanti otak menjadi banjir dengan idea hingga tidak ada ruang untuk keinginan melaksanakannya. Posisi kita sebagai sahabat yang sedia ada seharusnya digunakan sebaiknya untuk menegur dan membantu membaiki kelemahan yang ada pada individu ber”masalah”. Kelebihan pada ta’aruf yang berjalan sepanjang persahabatan(betul berlaku ta’aruf??) digunakan sebaiknya. Titik kegembiraan dan kemarahan yang telah kita kenali haruslah dimanfaatkan agar jauh dari konflik. Nyatakanlah dengan jujur dan ikhlas akan niat kita untuk membantunya dan memantapkan da’wah islam ini. Di sini memerlukan interaksi yang personal dan menjaga agar persoalan tidak tersebar kepada yang tidak berkepentingan<sup>1</sup>. Motivasikan dirinya dengan akibat dan natijah yang mungkin terhasil atas perubahan yang akan dihadapinya. Moga-moga Allah melembutkan hatinya untuk berubah dan menerima nasihat serta dieratkan lagi hubungan dia dan kita.</font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">            Namun jika isu sikap tersebut masih tidak dapat diselesaikan melalui <em>approach</em> persahabatan yang mengambil tindakan <em>ono on one</em>, wajarlah disepakati dengan beberapa sahabat lain yang mengambil berat akan masalahnya juga. Jika perlu, rencanakan aktiviti kebersamaan yang mampu untuk menyentuhnya, bukan dengan sesuatu yang terlalu <em>obvious</em> menumpu kepadanya agar tidak timbul <em>inferiority</em> padanya.</font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Adapun isu yang dibentangkan di atas hanya berkenaan permasalahan sikap individu, bukan dari aspek yang melibatkan teknikal dan sistem. Jika ini berlaku, adalah lebih baik permasalahan tersebut diusulkan kepada pembimbing tanpa diberitahu kepada sesiapa yang tidak sepatutnya agar tindakan yang responsif dapat diambil dengan segera supaya tidak memburukkan keadaan. </font></p>
<p align="justify"><font size="2" face="Verdana">Moga dengan sedikit perkongsian ini mampu untuk kita pertingkatkan kefahaman kita akan erti persahabatan dan erti kasih kerana Allah. Di sinilah kita tegur-menegur kerana akhirat berlaku sepertimana para sahabat Rasulullah s.a.w. di kalangan mereka sendiri. Malahan ia juga mendidik kita untuk menjauhkan dari sifat ego dan malu berlebihan dalam menghadapi masalah sikap. Kian lama ia dibiarkan, kian meruncing masalah dan bertambah pula bebanan da’wah kita. Langkah pertama yang dapat diambil adalah untuk bermula dengan introspeksi diri sendiri yang berlanjutan dengan pembinaan sensitiviti terhadap masalah sesama sahabat. Wallahualam.</font><font size="2" face="Verdana">      </font></p>
<table border="1" cellPadding="0" cellSpacing="0">
<tr>
<td width="174" vAlign="top"><font size="2" face="Verdana">Definisi</font></td>
<td width="252" vAlign="top"><font size="2" face="Verdana">Jenis Tindakan</font></td>
<td width="256" vAlign="top"><font size="2" face="Verdana">Tujuan</font></td>
</tr>
</table>
<p><font size="2" face="Verdana">Dipetik dari “Sudahkah kita Tarbiyah? Refleksi Seorang Mutarabbi”, Eko Novianto, Era Intermedia, 2006.</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana"><sup>1 </sup>Novianto, Eko; halaman 66, Jadual 2: Definisi dan Ciri Tindakan Kuratif </font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=8&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/dai-dan-keletihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4bde433c17e6f1af86cf062f4a0d12f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">auliaepriya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://galerikeadilan.net/data/media/12/P1050329.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">ikhwah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>5 (Lima) S</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/5-lima-s/</link>
		<comments>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/5-lima-s/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 00:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>auliaepriya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/5-lima-s/</guid>
		<description><![CDATA[5 (Lima) S K.H. Abdullah Gymnastiar Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=7&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><font size="5" color="#3399ff" face="Arial">5 (Lima) S </font></em></strong><font size="5" color="#3399ff" face="Arial"><strong><em><br />
</em></strong></font><font size="1" color="#ff0000" face="Verdana">K.H. Abdullah Gymnastiar</font><br />
<hr SIZE="1" noShade="true" /><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, “Shaf, shaf, rapikan shafnya!”, suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif"><span id="more-7"></span>Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa “Good Morning!” atau sapa dengan tradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum kafir.</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">Dua keadaan ini disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk mengevaluasi kita, ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak ada artinya jikalau kita kehilangan perilaku standar yang dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokan kewibawaan dakwah itu sendiri.</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimana kalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S : Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan wajah jernih kita rasanya ikut terimbas bahagia. Kata-kata yang disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enak didengar daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajah walaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita termasuk orang yang senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">S yang kedua adalah salam. Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana menjadi cair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru ingin menjawabnya, di situ ada nuansa tersendiri. Pertanyaannya, mengapa kita begitu enggan untuk lebih dulu mengucapkan salam? Padahal tidak ada resiko apapun. Kita tahu di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang pergi ke pasar, khusus untuk menebarkan salam. Negara kita mayoritas umat Islam, tetapi mengapa kita untuk mendahului mengucapkan salam begitu enggan? Adakah yang salah dalam diri kita?</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">S ketiga adalah sapa. Mari kita teliti diri kita kalau kita disapa dengan ramah oleh orang lain rasanya suasana jadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat di mesjid, meski duduk seorang jamaah di sebelah kita, toh nyaris kita jarang menyapanya, padahal sama-sama muslim, sama-sama shalat, satu shaf, bahkan berdampingan. Mengapa kita enggan menyapa? Mengapa harus ketus dan keras? Tidakkah kita bisa menyapa getaran kemuliaan yang hadir bersamaan dengan sapaan kita?</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">S keempat, sopan. Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk, ketika lewat di depan orang tua. Kita pun menghormatinya. Pertanyaannya, apakah kita termasuk orang yang sopan ketika duduk, berbicara, dan berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua? Sering kita tidak mengukur tingkat kesopanan kita, bahkan kita sering mengorbankannya hanya karena pegal kaki, dengan bersolonjor misalnya. Lalu, kita relakan orang yang di depan kita teremehkan. Patut kiranya kita bertanya pada diri kita, apakah kita orang yang memiliki etika kesopanan atau tidak.</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">S kelima, santun. Kita pun berdecak kagum melihat orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di angkutan umum, di jalanan, atau sedang dalam antrean, demi kebaikan orang lain. Memang orang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain, untuk kebaikan. Ini adalah sebuah pesan tersendiri. Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kesantunan yang kita miliki? Sejauh mana hak kita telah dinikmati oleh orang lain dan untuk itu kita turut berbahagia? Sejauh mana kelapangdadaan diri kita, sifat pemaaf ataupun kesungguhan kita untuk membalas kebaikan orang yang kurang baik?</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">Saudara-saudaraku, Islam sudah banyak disampaikan oleh aneka teori dan dalil. Begitu agung dan indah. Yang dibutuhkan sekarang adalah, mana pribadi-pribadi yang indah dan agung itu? Yuk, kita jadikan diri kita sebagai bukti keindahan Islam, walau secara sederhana. Amboi, alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun. Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut, dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimana pun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada,, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan.</font></p>
<p><font size="2" face="Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif">Saudaraku, Insya Allah. Andai diri kita sudah berjuang untuk berperilaku lima S ini, semoga kita termasuk dalam golongan mujahidin dan mujahidah yang akan mengobarkan kemuliaan Islam sebagaimana dicita-citakan Rasulullah SAW, Innama buitsu liutammima makarimal akhlak, “Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.***</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=7&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/25/5-lima-s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4bde433c17e6f1af86cf062f4a0d12f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">auliaepriya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melacak Karakter Istri Sholihah dalam Al Qur’an</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/24/melacak-karakter-istri-sholihah-dalam-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/24/melacak-karakter-istri-sholihah-dalam-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 06:57:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>auliaepriya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/24/melacak-karakter-istri-sholihah-dalam-al-qur%e2%80%99an/</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis dalam Tarbiyah A&#8217;iliyah oleh cyberdakwah pada Juni 19th, 2007 (http://adijm.multiply.com/journal/item/65/Melacak_Karakter_Istri_Sholihah_dalam_al_Quran_Kekasih_Ibu_dan_Sahabat?replies_read=39) &#160; Artikel singkat ini menyajikan beberapa karakter perempuan sholihah yang diungkapkan beberapa ayat al-Quran. Pengungkapan ayat-ayat ini dikaitkan dengan upaya pembangunan keluarga yang diliputi suasana tentram, cinta kasih dan sayang atau keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah (samara) sebagaimana diungkapkan pada ayat: Dan di antara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=6&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="meta"> 		Ditulis dalam <a href="http://id.wordpress.com/tag/tarbiyah-ailiyah/" title="Lihat semua tulisan dalam Tarbiyah A'iliyah" rel="category tag">Tarbiyah A&#8217;iliyah</a> oleh cyberdakwah pada Juni 19th, 2007</p>
<p class="meta">(http://adijm.multiply.com/journal/item/65/Melacak_Karakter_Istri_Sholihah_dalam_al_Quran_Kekasih_Ibu_dan_Sahabat?replies_read=39)</p>
<p class="main">&nbsp;</p>
<p class="snap_preview">Artikel singkat ini menyajikan beberapa karakter perempuan sholihah yang diungkapkan beberapa ayat al-Quran. Pengungkapan ayat-ayat ini dikaitkan dengan upaya pembangunan keluarga yang diliputi suasana tentram, cinta kasih dan sayang atau keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah (samara) sebagaimana diungkapkan pada ayat:</p>
<p>Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:21)</p>
<p><span id="more-6"></span>Ayat-ayat yang digunakan sebagian terkait langsung dengan posisi perempuan sebagai istri. Sebagian ayat lain tidak terkait langsung dengan posisi perempuan sebagai istri, akan tetapi bila kita telusuri lebih jauh, ayat-ayat ini berkaitan secara tidak langsung dengan posisi istri, semisal pengungkapan ayat-ayat terkait kisah Ratu Bilqis pada surat an-Naml atau ayat-ayat yang menggambarkan sifat para bidadari di surga. Insya Allah ayat-ayat ini akan diungkapkan dalam kerangka mengungkapkan karakter istri sholihah.</p>
<p>Untuk memudahkan pengkajian, penulis mengelompokkan ayat-ayat untuk menggambarkan karakter istri sholihah dalam tiga profil, yaitu:</p>
<p>Profil Kekasih<br />
Profil Ibu<br />
Profil Sahabat</p>
<p>1. Profil Kekasih</p>
<p>1.1. Taat kepada Allah</p>
<p>Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan. (QS. 66:5)</p>
<p>Menurut Muhammad Qutb, secara khusus ayat di atas merupakan pembelajaran bagi istri-istri Nabi, tentang makna kemuliaan sebagai istri di hadapan Allah swt. Akan tetapi orang beriman mendapatkan limpahan kerunia karena dapat mengambil pelajaran berharga dari pengajaran Allah ini.</p>
<p>Seorang perempuan sholihah itu pertama kali disifati dengan karakter ketaatannya kepada Allah swt. Mengapa kita menempatkan ketaatan kepada Allah ini sebagai karakter utama seorang kekasih? Jawabannya karena sebagai kekasih seorang itu mesti memelihara kecantikannya. Dan kecantikan hakiki seorang perempuan itu adalah pada ketaatan kepada Allah swt. Ini adalah puncak kecantikan batin, sebagaimana digambarkan Ibnul Qayyim. Dan kecantikan batin ini akan memperindah dan menyempurnakan kecantikan lahir.</p>
<p>Ketaatan kepada Allah diwujudkan dalam keimanan dan mewujudkan keyakinannya ini dalam amal perbuatan, taat terhadap semua aturan yang Dia tetapkan bagi perempuan muslimah, yang cepat menyadari kekeliruan dengan bertaubat, yang rajin beribadah, berpuasa dan senantiasa menjelajah kerajaanNya, ciptaanNya dan tanda-tanda keesaanNya dan kebenaran pengaturanNya di alam semesta. Inilah cakupan yang amat menyeluruh dari sifat keislaman bagi muslimah sholihah.</p>
<p>Diantara ketaatan praktis kepada Allah swt yang saat ini banyak ditinggalkan perempuan muslimah adalah berbusana menutup aurat (QS an Nuur:31 dan al-Ahzab:59). Ini merupakan fitnah yang amat serius, sebab Rasulullah saw pernah menegaskan,”Orang-orang perempuan yang berpakaian tetapi seperti telanjang, meliuk-liukan badannya dan rambutnya disasak, mereka tidak akan masuk surga, juga tidak akan mencium baunya surga, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak amat jauh.” (HR. Muslim)</p>
<p>1.2 Taat kepada Suami</p>
<p>Perempuan yang sholihah, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri 289 ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) 290 (QS. 4:34)</p>
<p>289: Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.</p>
<p>290: Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.</p>
<p>Rasulullah saw menyampaikan,”Jika seorang istri itu telah menunaikan shalat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya,dan taat kepada suaminya, maka akan dipersilakan kepadanya: masuklah ke Surga dari pintu mana yang kamu suka.” (HR Ibnu Hibban, al-Bazzar, Ahmad dan Thabrani, Albani menyatakan keshahihannya).</p>
<p>Pada pengajarannya yang lain, Rasulullah saw berkata,”Perempuan mana saja yang meninggalkan dunia sementara suaminya meridhainya pasti masuk Surga.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).</p>
<p>Sebaliknya kedurhakaan kepada suami akan mendatangkan kutukan dari Allah, para malaikat dan segenap manusia. Cukuplah pelajaran yang terdapat pada surat at-Tahrim menjadi peringatan bagi kaum muslimah.</p>
<p>Diantara sikap taat para istri kepada para suami adalah meminta ijin kepada suami jika hendak keluar rumah (tidak keluar rumah kecuali dengan ijin suami), tidak meminta bercerai tanpa alasan yang dibenarkan syariah, menjaga kesopanan dan kehormatan saat keluar rumah, tidak mengeraskan suara melebihi suami, tidak membantah suaminya dalam kebenaran, dan tidak menerima tamu yang dibenci suaminya ke dalam rumah, apalagi bermesraan dengan lelaki lain.</p>
<p>1.3. Lembut dan Pemalu</p>
<p>Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami” … (QS. 28:25)</p>
<p>Al Quran yang merupakan kalam Allah tak pernah menyampaikan sesuatu yang sia-sia. Begitu pula dengan disampaikannya sifat malu-malu pada ayat di atas, tentulah tersimpan hikmah untuk menggambarkan kemuliaan sifat perempuan.</p>
<p>Malu sendiri adalah bagian dari iman. Bahkan sebuah hadits pada Kumpulan 40 Hadits an-Nawawiy mengungkapkan: “Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan.” Penafsiran hadits ini paling tidak ada dua. Pertama, malu menjadi parameter apakah sebuah perbuatan layak dilakukan atau tidak. Kedua, orang yang rendah rasa malunya, akan melakukan apapun yang dia mau.</p>
<p>Sifat pemalu ini menunjukkan kemuliaan dan penjagaan kemuliaan dirinya. Bahkan sifat sopan dan pemalu ini dijadikan daya tarik pada bidadari, sebagaimana disebutkan pada ayat-ayat berikut:</p>
<p>Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya …(QS. 55:56)</p>
<p>Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka ni’mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. (QS. 55:70-72)</p>
<p>1.4. Pencinta</p>
<p>Rasulullah saw bersabda,”Dunia ini perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah perempuan yang shalihah.” (HR Muslim). Kata perhiasan terkait dengan makna keindahan. Seorang perempuan shalihah senantiasa menjaga daya tarik dirinya bagi suaminya. Isyarat tentang para bidadari menggambarkan keindahan dan keadaan penuh cinta pada mereka.</p>
<p>Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. (QS. 56:22-23)</p>
<p>Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung 1452, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, (QS. 56:35-37)</p>
<p>1452: Maksudnya mereka diciptakan tanpa melalui kelahiran dan menjadi gadis.</p>
<p>Rasulullah saw mengisyaratkan keadaan istri terbaik,”Istri yang paling baik adalah, bila suami memandang kepadanya memberikan kebahagiaan; Bila menyuruhnya, mentaatinya.; Bila sang suami bepergian, ia menjaga dirinya dan hartanya.” (HR An-Nasai dan dishahihkan oleh al-Iraqi).</p>
<p>Istri shalihah senantiasa menyenangkan hati suaminya dan menjaga suasana mesra tetap bersemi dalam keluarga. “Sesungguhnya apabila seorang suami menatap istrinya dan istrinya membalas pandangan (dengan penuh cinta kasih), maka Allah menatap mereka dengan pandangan kasih sayang. Dan jika sang suami membelai tangan istrinya, maka dosa mereka jatuh berguguran di sela-sela jari tangan mereka.” (HR Maisaroh bin Ali dari Abu Said bin al-Khudri).</p>
<p>Saat ini para suami dihadapkan pada godaan besar di sisi hubungan intim pria-wanita. Banyak perempuan yang secara sadar atau tidak telah menjadi penggoda kaum pria baik langsung ataupun tak langsung. Maka menjadi salah satu tanggung jawab mulia bagi para istri untuk membantu para suami mencurahkan cinta mereka pada sesuatu yang halal. Di sinilah makna larangan bagi para istri menolak ajakan para suami, seperti tercatat dalam pengarahan Rasulullah saw berikut ini:</p>
<p>“Bila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu ia menolak sehingga suaminya semalaman marah kepadanya, maka malaikat mengutuknya hingga pagi.” (Muttafaqun alaihi)</p>
<p>Jadi hadits ini mesti ditempatkan dalam kerangka menjaga hubungan mesra dan cinta; Bukan menempatkan perempuan dalam posisi tertekan dan terpaksa dalam menjalankan hubungan intim suami-istri.</p>
<p>2. Profil Ibu**</p>
<p>2.1. Memiliki Visi Pendidikan untuk Mengabdi kepada Allah</p>
<p>Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk”. (QS. 3:35-36)</p>
<p>Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. 46:15)</p>
<p>Ayat-ayat di atas mengajarkan agar para Ibu muslimah menjadikan visi terbesar pendidikan anak untuk menjadikan mereka para hamba Allah yang senantiasa berkhidmat kepada Allah swt. Kesuksesan utama orang tua dalam pendidikan anak adalah manakala mereka menjadi orang-orang yang pandai bersyukur kepada Allah.</p>
<p>Sikap syukur ini menyiratkan kebaikan-kebaikan mereka terhadap sesama manusia. Sebab syukur dalam makna yang luas berarti memanfaatkan segala kebaikan Allah swt untuk mentaatiNya. Artinya berbagai perbuatan kebajikan adalah perwujudan terima kasih kita kepada Allah. Dalam kerangka berpikir ini kita menemukan pentingnya pendidikan bagi anak, sebab pendidikan lah yang akan membuat seorang manusia memiliki karakter atau akhlak mulia.</p>
<p>Untuk itu seorang Ibu dituntut melengkapi wawasan dan pengetahuannya untuk mendidik anak-anak. Diantara pengetahuan mendasar bagi anak-anak adalah:</p>
<p>§ Dalam sisi keagamaan: tilawah Quran (serta pemahamannya pada hal-hal mendasar) dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya ra. Pengetahuan dasar keagamaan ini akan menjadi fondasi bagi kekokohan aqidah dan akhlak.</p>
<p>§ Dalam sisi pengetahuan dan keterampilan umum: komunikasi-berbahasa (termasuk sastra), logika-matematika, pengetahuan sejarah dan musik-bernyanyi.</p>
<p>2.2. Memiliki Keyakinan Kuat terhadap Janji Allah</p>
<p>Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (QS. 28:7)</p>
<p>Dalam menghadapi berbagai tantangan jaman, seorang Ibu mesti senantiasa optimis, bahwa Allah akan menolong mereka mendidik anak-anaknya menjadi manusia berguna di masa depan. Sikap teguh Ibunda Nabi Musa sebagaimana digambarkan pada surat al-Qashash menjadi teladan utama dalam bersikap yakin akan bantuan Allah swt ini.</p>
<p>Ibu Musa ditakdirkan melahirkan anaknya dalam kondisi amat berat, yaitu ketika Firaun, penguasa yang amat zhalim saat itu, mengeluarkan perintah untuk membunuh anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil, karena alasan ketakutan akan runtuhnya kerajaannya. Akan Allah swt memerikan keteguhan kepada Ibu Musa dan dengan dibantu oleh kakak perempuan Musa, Ibu Musa berhasil melalui masa-masa sulit tersebut untuk melindungi dan memelihara Musa.</p>
<p>Kisah di atas menjadi pelajaran berharga bagi para ibu muslimah. Saat ini tantangan yang dihadapi dalam mendidik anak-anak amat besar. Kita dihadapkan pada berbagai tantangan dalam mendidik anak-anak, mulai dari seleksi pendidikan yang berkualitas, tantangan finansial, tantangan lingkungan hingga tantangan pada diri kita sendiri. Untuk tantangan lingkungan, kita menyaksikan banyaknya “polusi” berita dan informasi tentang kekerasan atau tindakan a-susila baik dalam bentuk tulisan ataupun tayangan-tayangan audio visual.</p>
<p>Dalam kondisi ini peran para Ibu amatlah besar untuk menjaga anak-anak agar tumbuh pada fitrah kesuciannya. Modal paling besar bagi para Ibu adalah kedekatan dengan Allah swt, memahami pengarahan (taujih) dan pengajaran dari Allah swt melalui al-Quran dan sunnah NabiNya. Untuk itu para Ibu hendaknya senantiasa mengadakan pengkajian yang mendalam terhadap dua sumber utama ajaran Islam ini</p>
<p>Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS. 33:34)</p>
<p>2.3. Penuh Suka Cita dalam Mendidik</p>
<p>Dan berkatalah istri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa’at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedangkan mereka tiada menyadari. (QS. 28:9)</p>
<p>Sikap kasih sayang kepada anak-anak adalah fitrah yang Allah berikan kepada para Ibu untuk mendidik anak-anak mereka. Selama fitrah ini terjaga baik, seorang Ibu akan menjadikan perhatian pada anak sebagai perhatian terbesar dalam hidupnya. Kisah jatuh cintanya Asiyah istri Firaun kepada bayi Musa diabadikan al Quran untuk menggambarkan fitrah ini. Padahal Musa bukanlah anak kandungnya sendiri. Hendaknya sikap kasih sayang ini terus menyertai proses pendidikan anak.</p>
<p>Satu tantangan yang dihadapi para Ibu masa kini adalah tarikan untuk berkarir dan mencari penghasilan yang besar. Tarikan ini terjadi karena struktur sosial-ekonomi-masyarakat yang “memaksa” sebagian ibu-ibu untuk bekerja mencari nafkah. Padahal di dalam ajaran Islam, kewajiban mencari nafkah ini ada pada pundak para bapak. Motivasi lain adalah karena adanya kelemahan pola hubungan suami-istri. Sebagian istri merasa khawatir dirinya direndahkan oleh suami apabila tidak memiliki penghasilan sendiri. Tentu saja kondisi ini pun tidak seharusnya terjadi dalam keluarga muslim, sebab ajaran Islam telah memerintahkan para suami untuk bersikap kasih sayang dan adil dalam memimpin rumah tangga. Yang patut diwaspadai adalah ketika kaum perempuan justru sangat menikmati karirnya, sehingga meletakkan masalah pendidikan dan kasih sayang kepada anak pada prioritas ke sekian dibandingkan karirnya. Bahkan misalnya pada sebagian kalangan perempuan ada pandangan bahwa memiliki anak itu akan mengganggu karir mereka.</p>
<p>3. Profil Sahabat (Mitra)</p>
<p>3.1. Pencari Kebenaran</p>
<p>Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat 1462. (QS. 58:1)</p>
<p>1462: Sebab turunnya ayat ini adalah berhubungan dengan persoalan seorang wanita yang bernama Khaulah binti Tsa’labah yang telah didzihar oleh suaminya Aus bin Shamit, yaitu dengan mengatakan kepada isterinya: “Kamu bagiku sudah seperti punggung ibuku”, dengan maksud dia tidak boleh lagi menggauli isterinya, sebagaimana ia tidak boleh menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliyah kalimat seperti itu sudah sama dengan menthalak isteri. Maka Khaulah mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab bahwa dalam hal ini belum ada keputusan dari Allah. Dan pada riwayat yang lain, Rasulullah saw mengatakan: “Engkau telah diharamkan bersetubuh dengan dia”. Lalu Khaulah berkata: “Suamiku belum menyebut kata-kata thalak”. Kemudian Khaulah berulang-ulang mendesak Rasulullah saw agar menetapkan suatu keputusan dalam hal ini, sehingga kemudian turunlah ayat ini dan ayat-ayat berikutnya.</p>
<p>Seorang muslimah hendaklah terus bersemangat mencari dan menegakkan kebenaran sebagaimana ditunjukkan pada contoh sahabiyah Khaulah binti Tsalabah ini. Dengan demikian ia akan menjadi partner diskusi yang handal bagi suaminya.</p>
<p>3.2. Memiliki Kriteria Tepat tentang Pendamping Hidup</p>
<p>Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (QS. 28:26)</p>
<p>Menilik ayat di atas, sepertinya karakter ini berlaku bagi mereka yang belum menikah. Ayat di atas mengungkapkan kalimat putri seorang yang sholih di negeri Madyan, negeri tempat Musa muda melarikan diri dari kejaran Firaun. Sebagian penafsir mengatakan orang sholih ini adalah Nabi Syu’aib as. Begitulah gambaran seorang gadis yang cerdas dan sholihah menginterpretasikan sifat baik seorang pemuda. Ia tempatkan gejolak curahan hatinya mencari pasangan hidup, sekaligus melindungi posisinya dari kemestiannya bekerja dengan saudara perempuannya, karena sang ayah telah lanjut usia. Sang ayah pun memahami rahasia yang disembunyikan anak gadisnya. Setelah berbincang dengan Musa, ia menawari Musa untuk bekerja di tempatnya, dan ia berjanji akan menikahkan Musa dengan putrinya (kisah ini ada pada rangkaian ayat di atas, sebelum dan sesudahnya)</p>
<p>Akan tetapi bagi para muslimah yang telah menikah pun kisah di atas mengungkap pelajaran berharga. Perhatikanlah, perempuan sholihah meletakkan parameter lahir dan batin secara seimbang dalam berinteraksi dengan pasangan hidupnya. Maka semestinya apresiasi seorang istri kepada pasangannya pun selalu seimbang diantara sisi fisik dan psikis. Dalam kehidupan berumah tangga ini dapat diterjemahkan dalam bentuk perhatian pada pola makanan, pola istirahat, olah raga dan juga pada pola pendidikan serta pola ibadah ritual yang senantiasa mewarnai kehidupan suami-istri. Semakin panjang usia pernikahan, semakin terasa kebutuhan untuk saling mengingatkan dalam menjaga kondisi prima fisik dan psikis.</p>
<p>3.3. Kesetaraan di Hadapan Allah</p>
<p>Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam”. (QS. 27:44)</p>
<p>Ketika Ratu Balqis telah menyaksikan kerajaan besar yang Allah karuniakan kepada Nabi Sulaiman as dan mengetahui siapakah yang benar-benar harus disembah di muka bumi ini, sadarlah ia bahwa ternyata perbuatannya dan kaumnya (di antaranya menyembah matahari) adalah perbuatan yang zhalim. Akan tetapi perhatikanlah, Ratu Bilqis tidak pernah menyatakan ketundukan kepada Sulaiman. Yang ia ucapkan adalah bahwa ia bersama Sulaiman tunduk patuh, berserah diri kepada Allah swt.</p>
<p>Dari ayat ini kita mendapatkan taujih Rabbani (pengarahan Ilahi), bahwa kedudukan kaum perempuan dan kaum lelaki di hadapan Allah swt itu sama, yaitu sebagai hamba. Islam telah memuliakan kedudukan kaum perempuan. Untuk itu kaum muslimah hendaknya senantiasa menjaga kemuliaan ini dan bahu-membahu bersama para suami mereka dalam menegakkan kebenaran.</p>
<p>3.4. Berkontribusi Aktif dalam Kerja Sosial dan Da’wah</p>
<p>Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min 1219, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 33:35)</p>
<p>1219: Yang dimaksud dengan “orang muslim” di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud “orang yang mu’min” di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.</p>
<p>Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain 259. (QS. 3:195)</p>
<p>Sebab turunnya dua ayat di atas terkait langsung dengan kehidupan para muslimah di masa kehidupan Nabi Muhammad saw. Ayat pada surat al Ahzab turun karena adanya ucapan Ummu ‘Imarah al-Anshari kepada Rasulullah saw,”Kami menyaksikan segala sesuatu (terkait ajaran Islam) hanya bagi lelaki dan kami tidak melihat kaum perempuan disebut-sebut.” (diriwayatkan at-Tirmidzi melalui Ikrimah). Atau melalui Ibnu ‘Abbas diriwayatkan bahwa para muslimah berkata kepada Nabi saw,”Ya Rasulullah, mengapa hanya disebutkan kaum beriman lelaki dan tidak disebutkan kaum beriman perempuan?” (diriwayatkan ath-Thabrani). Sedangkan pada riwayat lain dikabarkan bahwa para muslimah menanyakan mengapa hanya para istri Nabi yang disebutkan. Mereka berkata,”Kalaulah pada kami ada kebaikan, tentu kami disebutkan.” Maka Allah swt menurunkan ayat di atas. (diriwayatkan Ibnu Sa’ad dari Qatadah)</p>
<p>Adapun untuk ayat pada akhir surat Ali ‘Imran, diriwayatkan bahwa Ummu Salamah berkata,”Ya Rasulullah, aku tidak mendengar Allah menyebutkan kaum perempuan dalam peristiwa Hijrah sedikitpun.” Maka Allah swt menurunkan ayat tersebut. (diriwayatkan oleh Abdur Razaq, Said bin Manshur, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan Ibnu Abi Hatim).</p>
<p>Setelah kita ketahui konteks sosial sebab turunnya, ayat-ayat di atas semakin meneguhkan adanya peran sosial dan da’wah yang penting dari kaum perempuan sejak masa pertama turunnya ajaran Islam. Ini berlaku bagi semua perempuan. Mereka tidak kalah dengan kaum lelaki dalam melakukan seluruh aktifitas kehidupan, mulai yang sifatnya ibadah ritual hingga aktifitas sosial dalam rangka memperbaiki kondisi masyarakat.</p>
<p>WaLlaahu a’lamu bish shawwab.</p>
<p>Beberapa Buku Bacaan</p>
<p>Aisyah Abdurahman, Istri-istri Nabi saw., Pustaka Mantiq, 1988<br />
Abu Mohd Rosyid Ridho, Wanita Sholihah: Ciri-ciri dan Fungsinya, Hikmah, Medan, 1985<br />
Ibnu Ahmad Dahri, Peran Ganda Wanita Modern, Pustaka al-Kautsar, 1991<br />
Ibnul Qayyim, Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.<br />
Ibrahim bin Shalih al-Mahmud, Kiat Hidup Bahagia dengan Suami Anda, Firdaus, 1992<br />
Khairiyah Husain Thaha, Konsep Ibu Teladan: Kajian Pendidikan Islam, Risalah Gusti, 1992<br />
Muhammad Qutb, Figur Wanita Sorga dan Neraka, Penerbit Amarpress, 1987<br />
As-Suyuthi, Asbabun Nuzul.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=6&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/24/melacak-karakter-istri-sholihah-dalam-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4bde433c17e6f1af86cf062f4a0d12f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">auliaepriya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air Tawar Segar di Kedalaman Samudera</title>
		<link>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/24/air-tawar-segar-di-kedalaman-samudera/</link>
		<comments>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/24/air-tawar-segar-di-kedalaman-samudera/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 06:36:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>auliaepriya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/24/air-tawar-segar-di-kedalaman-samudera/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Artikel Islami 09 Januari 2002 &#8211; 11:37 Air Tawar Segar di Kedalaman Samudera Oleh: Ir. H. Bambang Pranggono, MBA. &#160; Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.&#8221; (Q.S Al Furqan:53) Jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=5&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="95%">
<tr>
<td valign="top"><img src="http://www.dudung.net/images/spacer.gif" height="5" width="1" /></td>
</tr>
<tr>
<td>&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td>&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td class="linkabu" valign="top">Artikel Islami</td>
</tr>
<tr>
<td><span class="quranlatin">09 Januari 2002 &#8211; 11:37 </span></td>
</tr>
<tr>
<td class="judul-berita">Air Tawar Segar di Kedalaman Samudera    <img src="http://www.dudung.net/images/icons/star.gif" align="absmiddle" border="0" /><img src="http://www.dudung.net/images/icons/star.gif" align="absmiddle" border="0" /><img src="http://www.dudung.net/images/icons/star.gif" align="absmiddle" border="0" /><img src="http://www.dudung.net/images/icons/star.gif" align="absmiddle" border="0" /><img src="http://www.dudung.net/images/icons/star.gif" align="absmiddle" border="0" /></td>
</tr>
<tr>
<td><em>Oleh: Ir. H. Bambang Pranggono, MBA.</em></td>
</tr>
<tr>
<td>&nbsp;</td>
</tr>
<tr>
<td class="text-content"><em> </em></p>
<p align="justify"><em>Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan);  yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara  keduanya dinding dan batas yang menghalangi.&#8221; </em>(Q.S Al Furqan:53)</p>
<p align="justify">Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara televisi  `Discovery&#8217; pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli kelautan  (oceanografer) dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut  putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero  dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam bawah laut untuk  ditonton jutaan pemirsa di seluruh dunia.</p>
<p align="justify">Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah  laut, tiba-tiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat  sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di  sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.</p>
<p align="justify">Fenomena ganjil itu membuat penasaran Mr. Costeau dan  mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di  tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi  atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian  tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang  fenomena ganjil tersebut.</p>
<p align="justify">Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor  muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat  pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20)  yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez. Ayat itu <em>berbunyi  <strong><font color="#33ffff">&#8220;Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun  laa yabghiyaan&#8230;&#8221;</font></strong> </em>artinya &#8220;Dia biarkan dua lautan bertemu,  di antara keduanya ada batas yang tidak bisa ditembus.&#8221; Kemudian dibacakan surat  Al Furqan ayat 53 di atas. Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang  bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara  sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari  laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman  ayat 22 yang berbunyi <em><font color="#33ffff"><strong>&#8220;Yakhruju minhuma lu&#8217;lu`u  wal marjaan&#8221;</strong></font> </em>artinya &#8220;Keluar dari keduanya mutiara dan  marjan.&#8221; Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.</p>
<p align="justify">Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur&#8217;an itu,  melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di  lautan yang dalam. Al Qur&#8217;an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di  abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk  mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu  mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti  pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur&#8217;an memang sungguh-sungguh  kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar.  Dengan seketika ia pun memeluk Islam.</p>
<p align="justify">Allahu Akbar&#8230;! Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena  teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al `Azhim.  Rasulullah s.a.w. bersabda: <em><font color="#33ffff">&#8220;Sesungguhnya hati manusia  akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.&#8221; Bila seorang bertanya,  &#8220;Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?&#8221; Rasulullah  s.a.w. bersabda, &#8220;Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.&#8221; </font></em></p>
<p align="justify"> <em>Sumber: Majalah Percikan Iman, Edisi 4 Tahun  II<br />
</em></td>
</tr>
</table>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyahweekly.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyahweekly.wordpress.com&amp;blog=1978462&amp;post=5&amp;subd=tarbiyahweekly&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyahweekly.wordpress.com/2007/10/24/air-tawar-segar-di-kedalaman-samudera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e4bde433c17e6f1af86cf062f4a0d12f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">auliaepriya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.dudung.net/images/spacer.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.dudung.net/images/icons/star.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.dudung.net/images/icons/star.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.dudung.net/images/icons/star.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.dudung.net/images/icons/star.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.dudung.net/images/icons/star.gif" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
